Posted by: ikangfawzi | 19 October 2009

Masa Kecilku di Belgia: Ikang Fawzi

masa-kecil-ikang-fawzi-di-belgia-depluMasa Kecilku di Belgia

Salah satu hal yang paling menyenangkan menjadi anak dari keluarga besar Deplu adalah masa kecil kami yang kaya akan pengalaman hidup dan bersosialisasi dengan anak-anak bangsa lain diseluruh penjuru dunia.

Alhamdulillah walau tidak bermewah-mewah didalam hal mendidik keempat anak-anaknya, orang tuaku telah memberikan dasar edukasi mumpuni agar kami berempat mampu bersaing didalam menjawab tantangan zaman.

Foto ini adalah sedikit penggalan dari kenang-kenangan kami ketika masih tinggal di Brusel, ibu kota Belgia.

Tags: , , , ,

Posted by: ikangfawzi | 19 October 2009

Syekh Hisyam Kabbani Guru Spiritual Marissa Haque Istriku

syekh_hisyam_kabbani_ikang_fawzi_marissa_haque_tareqoh_naqsyahbandi_haqqqniSyekh Hisyam Kabbani adalah Salah Seorang Guru Spiritual Marissa Haque Istriku

Beberapa kali dalam setahun beliau datang ke Indonesia. Terkahir sebelum Pilpres beliau juga datang dan kami juga mendapatkan khabar bahwa Presiden SBY juga bertemu dengan Syekh Hisyam.

Tarekatnya bernama Naqsyahbandi Haqqani.

Tags: , ,

2-marissa-haque-seharunya-dilantik-masuk-sebagai-dpr-ri-putaran-3-bukti-cetro-2009 Sangat surprise rasanya ketika saat terkantuk-kantuk saya mendengar bunyi klakson mobil didepan rumah tak berpagarku. Namun kok ada suara anak bayi/anak kecil menangis, siapakah gerangan tamuku itu?

1-marissa-haque-seharunya-dilantik-masuk-sebagai-dpr-ri-putaran-3-bukti-cetro-2009-2

 

Rupanya saya kedatangan tamu special teteangga tak jauh dari rumah Kang Pepih guru ICT-ku, beliau bernama Bapak Jendral. Purn. Azhari kader dari Partai Hanura yang nasibnya sama diperdagangkan oleh KPU Hak Konstitusionalnya untuk menjadi anggota DPR RI dari putaran ke 3.

Sesungguhnya saya tentu masih ingat janji kepada beberapa teman maya yang dekat dihati para Kompasianaers sekalian – Kang Pepih, Mbak Linda, Mbak Rosiy, Mas Kalimasada, Oom Jay, Pak Prayitno, dan lainnya yang belum sempat saya sebut satu persatu… bahwa ada hutang menulis tentang film yang belum saya tuntaskan. Namun kedatangan Pak Jendral – demikian saya memanggil ‘sok akrab’nya – yang serta merta pastilah sangat penting. Apalagi bila saya melihat beliau dating dengan sepasang anak-mantu dan cucu bontotnya yang belum lagi setahun usianya. Pak Jendral adalah mantan Kepala Bais dimasa masih menjabat. Dan partai beliau HANURA (Hati Nurani Rakyat) adalah tempat  berkumpulnya para purnawirawan Pol-Mil. Sehingga setiap informasi yang datang tentu memiliki tingkat kecepatan dan keakurasian yang sangat ‘mewah’ dan precise!

Tak hendak menjustifikasi Presiden SBY dan Mayjend Yahya Ketua Bapilu Partai Demokrat, namun data yang saya up-load ini semoga dapat disampaikan – melalui beberapa teman jurnalis di grup Kompas dan kompasianaers lainnya – kepada Presiden SBY langsung. Agar kami ber-14 (empat belas) – ternyata, bukan 16 – mendapatkan kembali HAK KAMI untuk dilantik yang tertunda seharusnya tanggal 1 kemarin.

Kami tahu bahwa hamper ratusan bahkan ribuan KEPPRES yang telah dikeluarkan Presiden  baik Soeharto s/d SBY sulit untuk ditelan kembali seperti menelan ludah sendiri. Namun saya sebagai rakyat biasa pembayar pajak yang taat serta tidak pernanh menjadi criminal ingin mengingatkan Presiden SBY, bahwa kejahatan konstitusi KPU sejak diumumkan kemarin dimana dimenit yang sama “menghasilkan” GEMPA di Tasikmalaya, dan disusul pada saat pelantikan ABAL-ABAL lalu “menghasilkan” GEMPA dimana dimenit yang sama di Padang, Sumatra Barat. “Dosa” politik yang sudah sedemikan jauh sebaiknya jangan ditambah lagi oleh atau melalui Presiden SBY tanpa ‘berani’ MENEGUR KERAS Ketua Bapilu Partai Demokrat yang menurut info ‘orang-orang’ BAIS memaksa Pak Hakim MK Mufti menandatangani HAL YANG HARAM secara konstitusi dengan ‘bisikan’ DIMINTA oleh Pak SBY. PAdahal info yang sampai kekami hanya karena ingin MENG-GOAL-KAN perempuan ‘istimewa’ beliau bernama LINDA MEGAWATI sehingga Hak Konstitusional Wasekjen Partai Demokrat sahabat sejak remajaku mbak Ani (Fariani Sugiharto)/kakak dari Denny JA jadi hilang.

Saya sudah tidak ingin melakukan apapun juga, karena pola dari kejahatan ini persis seperti Pilkada Banten 2006 sepaket dengan dugaan ijazah aspal (asli tapi palsu) Ratu Atut Chosiyah dari Universitas Borobudur, Jakarta Timur hanya dalam 8 (delapan) bulan saja selesai S1-nya. Daaan… tidak ada hasil juntrung dari seluruh penyelenggara dan lembaga Negara RI yang berpihak kepada penegakan hukum yan adil dan setara – termasuk Presiden dan Wapres-nya!

Saya pribadi tinggal menunggu REVOLUSI rakyat, yang rasanya akan terjadi ndak lama lagi deh

 

Ya Allah… lindungi kami semua yang masih percaya pada kebenaran-Mu… Allahu Akbar! Kita belum merdeka!

 

3-surat-ke-ma-14-surat-ke-ma-25-jawaban-dari-ma-tuwada-tun-prof-dr-paulus-lotulung-sh-mcl6-surat-mohon-fatwa-17-surat-mohon-fatwa-28-bukti-kpu-melanggar-keputusan-ma-dan-mk-tanda-tangan-ketua-ma9-nakalnya-kpu-110-nakalnya-kpu-2

Tags: , , , , , , ,

KPU merasa diatas angin, dan mempertegas bahwa politik uang/GRATIFIKASI adalah SAH dinegeri ini!

1-kejam-dan-dzolim-presiden-sby-pada-dpr-ri-putaran-31

Ikan busuk dari kepalanya, Indonesia adala sebuah Negara Republik dengan Kepala Negara qum Kepala Pemerintah cq Presiden RI. Bila sang KEPALA berkelakuan MANIPULATIF serta DZOLIM, maka seluruh penyelenggara negara akan sama busuknya dengan sang Kepala.

Data dibawah ini bukti keputusan Mahkamah Agung (MA) yang diacuhkan oleh Keppres Presien SBY dan demi kepentingannay sendiri tetap melantik 16 (enam belas) anggota DPR RI PALSU sesuai dengan SELERA seluruh Komisioner KPU dengan sejumlah BANDROL HARGA KURSI PUTARAN 3 (tiga).

Rupanya Presiden SBY TIDAK CUKUP dengan MELANTIK GUBERNUR PALSU RATU ATUT CHOSIYAH, prilaku REPRESIF serta OTORITATIF ORDE BARU semakin nyata dari hari kehari tahun 2009 ini!

Rakyat banyak tertipu, kita tertipu, saya sekeluarga tertipu dengan mencontrng SBY BERBUDI!

Manipulasi Data & Kedzoliman Keppres Presiden SBY atas Putaran 3 DPR RI

2-kejam-dan-dzolim-presiden-sby-pada-dpr-ri-putaran-31Yang bertanggungjawab mengeluarkan surat keputusan ini adalah Hakim Konstitusi Mahkamah Agung Prof Dr. Paulus Lotulung, SH.

Gila sekali Presiden SBY sampai kotor menjalankan semua cara untuk kepentingan kelompoknya semata! Yaaaa…Allaaaahhhhh…

3-kejam-dan-dzolim-presiden-sby-pada-dpr-ri-putaran-31

Tags: , , , , , , , ,

sby-kapolridlm

Presiden SBY sudah menegaskan tak akan mencampuri urusan Bank Century, sebab itu wilayah Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Bank Indonesia. Apakah ini indikasi bahwa sebenarnya SBY mengetahui soal pengucuran dana Rp 6,7 triliun sebagai ‘penyelamatan’ bank bodong itu?

Konfirmasi langsung dari Mensesneg yang menyatakan bahwa Presiden SBY menerima laporan dari Menkeu soal Bank Century pada 13 November 2008, di tengah kehadiran presiden dalam pertemuan G-20 di Washington, AS. Pertanyaan publik: Apakah SBY tahu soal Bank Century dan memberikan perintah untuk menyuntik dana itu?

Kalaupun SBY mengizinkan dan memberi perintah atas hal ini, sebenarnya patut dipahami karena beberapa alasan. Pertama, para deposan besar yang digosipkan di komunitas perbankan adalah Sampoerna dan Hartati Murdaya. Sumber internal yang tidak dapat dikonfirmasi menyatakan bahwa Sampoerna punya penempatan per November 2008 sekitar Rp 1.895 miliar, sedangkan Hartati punya hanya sekitar Rp 321 miliar.

Seperti diketahui keduanya adalah penyumbang logistik SBY dalam Pemilu 2009. Sampoerna sejak beberapa tahun lalu mkpu-ketakutan-dengan-kejahatannya-sendiriendanai penerbitan salah satu koran nasional yang menjadi corong SBY, sedangkan Hartati merupakan host tetap acara-acara besar SBY di Kemayoran. Amat wajar bila sumbangan mereka tidak hanya sebatas hal tersebut di atas, apalagi pada saat itu waktu menjelang pileg 2009.

Kedua, dengan peran PPATK dan aturan soal pencucian uang yang semakin ketat, maka cara paling mudah untuk ‘mengesahkan’ sumbangan demi kepentingan pemilu bagi SBY adalah dengan skema Bank Century ini. Dengan suntikan dana dari LPS, maka deposan besar dapat menarik uangnya dari Bank Century.

Dengan sedikit cara pencucian dapat diatur agar seolah-olah memang ada placement besar di masa lalu oleh para deposan besar ini di Bank Century, lalu ditarik oleh mereka dan disalurkan sebagai dana pemilu. Praktek yang berbeda tapi dalam skema ketrampilan yang mirip adalah cessie Bank Bali pada masa lalu, ketika kekuasaan menarikkan deposito (atau tagihan) mendapatkan fee yang waktu itu akan digunakan Golkar oleh Akbar Tandjung. Jadi apakah SBY mengetahui dari awal soal Bank Century ini?

Jika kita membaca tulisan di atas, nampak ada indikasi kuat SBY juga mengetahui, bahkan ‘mungkin’ menyetujui bail-out Bank Century. Tidak mungkin Menteri Keuangan, walaupun didukung Bank Indonesia, berani membuat kebijakan seperti itu tanpa persetujuan presiden. Apalagi, kemungkinan besar Wapres Jusuf Kalla tidak setuju. Tentu, dalam teori bargaining power, Sri Mulyani mau berhadapan dengan wapres karena dia telah didukung oleh presiden.

Salam Kasih.

Oleh: Yuli Putri

Tags: , , , , , , ,

dr-hargo-ugmKenapa saya menhantarkan tulisan pendek ini kepada para pengunjung blog-ku? Karena ada sebuah kejadian yang ingin saya bagi dengan anda semua ketika sepulang dari Mahkamah Kosntitusi pasca diterima oleh Prof. Dr. Mahfud MD kemarin. Yaitu sebuah pemahaman yang semakin meyakinkan diri ini bahwa NKRI semakin jelas sebagai sebuah negara yang dikelola dengan gaya Leadership Transaksional dalam koridor Negara Kekuasaan (Machstaat), dimana jauh dari sifat negara hukum konstitusional (Rechstaat). Bahwa demi untuk memastikan HARUS BISA SBY-Boediono dilantik pada tanggal 20 Oktober 2009 besok ini, sebanyak 15 dari 115 caleg putaran ketiga HARUS BISA dipaksakan untuk tidak memperoleh HAK KONSTITUSIONALnya untuk menjadi anggota DPR RI 2009-2014. Saya sudah mengikhlaskannya, sekarang ini bulan suci Ramadhan, sehingga saya yakin seluruh kejahatan yang dilakukan dibulan ini – siapapun dia orangnya – akan mendapatkan sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Allahu Akbar! Kita belum merdeka!

 Mengelola sebuah perusahaan atau sebuah oraganisasi tentu berbeda dengan mamajemen sebuah pemerintahan Negara, namun ada beberapa persamaan yang mungkin dapat kita adopsi bila membaca sepenggal esei pendek dari Pak Dr. Hargo Utomo, MBA., M.Com. Beliau adalah seorang Deputy Director of Academic and Student Affairs pada Program Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Gadjah Mada tempat saya mengambil S2 yang kesekian.

Mengelola Risiko Ketidakpastian

 

1. Mengelola Resiko Ketidakpastian

Bagi sebagian orang, membahas tentang risiko ketidakpastian selalu identik dengan sesuatu yang bernuansa negatif dan merugikan sehingga harus dihindari dan oleh karenanya kalau memungkinkan bisa direduksi sampai pada level terkecil.  Ketidakpastian seolah menjadi ancaman bagi individu atau kelompok karena dianggap mengganggu proses pencapaian kinerja organisasional. Padahal, kalau disimak lebih jauh, ketidakpastian justru dapat menjadi stimulan untuk memunculkan pemikiran kreatif yang pada gilirannya dapat mendorong langkah inovatif bagi suatu organisasi.  Coba simak kalau orang bertanya:”Apa yang mendorong para pebisnis memutuskan tetap menjalankan bisnisnya di Indonesia walaupun negeri ini seringkali dinilai memiliki tingkat risiko dan ketidakpastian cukup tinggi dibanding negara-negara berkembang lainnya?”  Bisa ditebak jawabannya, yaitu bahwa ketidakpastian itu adalah “kembang gula atau pemanis” yang menarik dan bisa mendatangkan “semut-semut” bisnis.  Argumen itu sepertinya hanya relevan bagi mereka yang menyukai tantangan dan berani mengambil risiko atas suatu pilihan atau keputusan. Bagaimana pula bagi mereka yang mempunyai preferensi terhadap comfort zone dan menyukai status quo dalam dalam berbisnis?

Mengelola ketidakpastian memang sangat dekat dengan risiko yang juga sering dipersepsikan secara sempit sebagai akibat negatif dari suatu pilihan atau keputusan.  Bagi para pebisnis yang menyukai tantangan, maka risiko yang dikalkulasi (calculated risk) adalah bagian dari suatu bisnis yang juga perlu mendapat porsi pengelolaan tersendiri. Tujuannya jelas, yaitu mendapatkan kekuatan (power) yang besar untuk mengendalikan sumberdaya produktif.  Logikanya, dalam kondisi keterbatasan sumberdaya, maka seseorang akan cenderung mengambil keputusan berdasar pada tingkat kejelasan sumberdaya dan kestabilan dalam perolehannya.  Ini berarti, para pebisnis yang memiliki kecenderungan perilaku sebagai risk taker akan selalu mencoba menemukan sumberdaya alternatif bagi bisnisnya.  Sebaliknya, bagi pebisnis yang masuk dalam kategori risk avoider atau risk averter, maka sangat sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa risiko yang dikalkulasi sebenarnya adalah bagian dari proses bisnis yang harus dikendalikannya. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah ada kompromi diantara keduanya. Jika kompromi harus dilakukan, bagaimana memasukkan aspek-aspek organisasional ke dalam pengelolaan suatu risiko ketidakpastian dalam bisnis.

 

2. Kompromi dalam Mengelola Risiko

            Pembicaraan mengenai risiko dapat berkembang luas mulai dari tingkatan fungsi keuangan sampai pada lingkup kegiatan yang tidak secara langsung terkait dengan urusan keuangan.  Sebagai ilustrasi, para pebisnis seringkali dihadapkan pada pilihan yang cukup berat karena menghadapi kenyataan adanya perputaran manajerial (managerial turnover) yang tinggi dalam lingkup pekerjaannya. Suatu fenomena yang seringkali dijumpai pada industri jasa keuangan dan perbankan di negeri ini.  Bahkan ada anekdot yang menyatakan bahwa kalau seseorang mampu bertahan berkerja di suatu perusahaan jasa keuangan lebih dari 10 tahun pada perusahaan yang sama, maka orang itu memiliki karakter kuat melebihi manusia langka yang pernah ada di dunia. Sudah barang tentu, anekdot semacam ini tidak berlaku umum dan dapat terterapkan untuk semua bentuk pekerjaan dan/atau industri.

Itu sebabnya, untuk mempertahankan sosok atau figur yang memiliki kapasitas manajerial dan mumpuni dalam mengampu pekerjaan tertentu, suatu institusi kadangkala harus mengemasnya dengan ragam bentuk gimmick atau iming-iming untuk menjadikannya menarik sebagai tempat berkarya. Tidak jarang dijumpai bentuk insentif yang ditawarkan merupakan paket remunerasi yang mengkombinasi antara pemenuhan kebutuhan dasar dan aktualisasi diri. Suatu hal yang nampaknya sulit dilakukan, tetapi mulai banyak diterapkan.  Dalam kaitan dengan hal tersebut, ada satu pelajaran menarik yang dapat diambil dari hasil studinya Carson et.al (2006) yang berjudul “Uncertainty, opportunism, and governance: The effect of volatility and ambiguity on formal and relational contracting”, Academy of Management Journal, Vol. 49., No.5 yaitu bahwa mengelola ketidakpastian sumberdaya manusia dalam bisnis dapat dilakukan dengan memodifikasi pola kontraktual dalam suatu ikatan kelembagaan. Hipotesis yang dimunculkan dalam studi tersebut adalah bahwa pola hubungan kontraktual dalam suatu bisnis akan cenderung lebih kuat terhadap desakan faktor volatitas dibanding ambiguitas. Sebaliknya, pola kerja yang berbasis kontrak formal akan lebih tahan terhadap desakan faktor ambiguitas (ambiguity) dibanding volatilitas (volatility).  Sudah barang tentu, kedua pola hubungan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dan dalam banyak hal tidak saling menggantikan. Dengan demikian, kecermatan dalam mengamati situasi, akan menentukan tingkatan risiko ketidakpastian pola kerja yang dipilih.Pada lingkup yang lebih luas, mengelola risiko ketidakpastian dalam organisasi bisnis membutuhkan dukungan infrastruktur kelembagaan yang bisa diandalkan dan mampu untuk menopang kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan dalam organisasi bisnis. Memang, pengalihan risiko finansial secara terbatas dapat dialihkan kepada perusahaan-perusahaan asuransi atau bentuk lembaga penjaminan lainnya. Situasi berkembangnya bisnis asuransi di Indonesia memang mungkin bisa menjadi salah satu indikator adanya kesadaran baru di kalangan masyarakat dalam mengelola risiko ketidakpastian.  Namun, risiko lain yang terkait dengan kegiatan yang sifatnya operasional atau situasi yang mengarah pada perubahan kondisi mental, sosial, dan politikal nampaknya  masih membutuhkan upaya integratif sehingga mampu mengkombinasi kemanfaatan moneter yang dijanjikan dengan bentuk lain yang juga bernilai tinggi.  Pengelolaan bisnis dengan menggunakan pola portfolio mungkin bisa menjadi satu alternatif.  Dengan cara itu, bisa saja terjadi bentuk kegiatan bisnis dikemas dalam format aliansi untuk menghadapi kemungkinan pemunculan faktor ketidakpastian di dalam suatu sektor atau industri tertentu.

 

 

3. Penutup

Apapun bentuk keputusan yang akan diambil oleh para pebisnis, rasionalitas terbatas yang dimiliki mengharuskan seseorang untuk memilih dari segala bentuk opsi yang menawarkan solusi terhadap situasi ketidakpastian. Itu pula mengapa untuk memilih lembaga penjaminan mana yang dinilai memiliki kredibilitas tinggi memang tidaklah selalu mudah. Penggunaan indikator ganda (multiple indicator) bisa saja dilakukan untuk bisa menentukan peringkat yang diharapkan peringkat itu mampu menggambarkan kredibilitas yang ditawarkan.  Lebih dari itu, proses pemilihan yang dilakukan dengan berdasar pada ketentuan-ketentuan yang mengarah pada praktik bisnis yang baik (good governance) barangkali merupakan hal yang bisa dilakukan untuk menghindari jebakan risiko ketidakpastian dalam berbisnis.

Posted by: ikangfawzi | 12 September 2009

Kebun Raya dan Musik Bersama Dep PU di Bali: Ikang Fawzi

Sabtu, 18 Juli 2009 | 03:20 WIB
1-handsomeikanginhandsomeblackforbant
Ikang Fawzi (45) laris di acara peringatan 50 tahun Kebun Raya Eka Karya Bali, di Bedugul, Tabanan, Rabu (15/7) malam. Laris bukan karena ia menjual suatu barang, tetapi banyak bapak dan ibu dari berbagai daerah yang datang sebagai undangan kebun raya itu memintanya berfoto bersama.
Mereka mengaku sebagai penggemar Ikang Fawzi sejak lama. ”Wah, silakan Pak. Mau bagaimana gayanya, Pak?” kelakar penyanyi rock ini. Namun, kehadirannya di sini bukan sebagai duta kebun raya. Ia diminta teman-temannya yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum untuk mengisi acara hiburan di Kebun Raya Eka Karya Bali.
Apa komentarnya? ”Saya kagum dengan kebun raya ini. Terbayang sehatnya badan dan rohani jika sering menghirup kesegaran alam yang asri, apalagi bareng keluarga,” katanya. ”Otomatis bermusik pun jadi lancar dan menyenangkan. Kebun raya ini membawa aura segar, musik jadi indah dengan sendirinya,” ujar Ikang.
Ia berharap bisa mengunjungi ke-20 kebun raya di Indonesia. Selama ini Ikang baru sempat mengunjungi kebun raya di Bogor, Cibodas, dan Bali. ”Meski baru taraf mengagumi keanekaragaman alam di kebun raya, saya sungguh mendukung pelestarian alam,” tuturnya. (AYS)
2-ikang-dan-marissa-disaat-pacaran-dulu-1983-1

Posted by: ikangfawzi | 12 September 2009

Menangisi sang Garuda pada HUT Presiden SBY ke 60: Marissa Haque

1-garuda-pancasila-marissa-haque-2009

“Garuda Pancasila, akulah pendukungmu;

Patriot proklamasi, sedia berkorban untukmu;

Pancasila dasar negara;

Rakyat makmur adil sentosa;

Pribadi bangsaku;

Ayo maju… maju;

 Ayo maju… maju;

Ayo maju… maju.”

 

Sebelumnya ingin kuucapkan: Selamat Hari Ulang Tahun Pak Presiden SBY ke 60, Semoga Panjang Umur dan Sejahtera Selalu. Sebagai salah seorang rakyat/warganegara Indonesia yang percaya kepada konsep Pancasila dengan “Garuda Pancasila” sebagai simbol/lambang negara, kuyakini penggalan syair akulah pendukungmu; patriot proklamasi; sedia berkorban untukmu.

Walaupun dengan hati perih dan berderai airmata yang bercucuran tak tertahankan ketika secara lirih perlahan kunyanyikan bait demi bait didalam syair lagunya, serta meresapi makna sangat dalam yang terkandung pada isi syairnya. Sebagai warganegara yang baik kutetapkan dalam hati ini melalui pernyataan: Jangan tanyakan apa yang bisa aku peroleh dari negriku, namun apa yang mampu aku berikan kepada negriku(Kennedy, 1960).

Tulisan ini sebanarnya adalah satu dari sekian tulisanku yang hendak kubuang ketong sampah diruang perpustakaan karena telah beberapa hari ‘ngendon’ didalam komputerku karena serasa tidak pernah berhasil mampu kuselesaikan pasca pertemuan ‘mewah’ diruang kerja Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) Prof. Dr. Mahfud MD, SH, SU dilantai 15 Gedung MK di Jakarta pada pukul 16.00 sore hari bertepatan dengan HUT ke 60 Presiden SBY tertanggal 9 bulan 9 tahun 2009 sekaligus tenggat waktu kadaluwarsa penetatapan Keputusan KPU atas terkatung-katungnya nasib Anggota Legislatif Putaran 3 (tiga) yang berhak duduk di DPR RI mewakili rakyat dari wilayah konstituennya.

 2-marissa-haque-fawzi-sang-garuda-indonesia-2009

1.      Elang Jawa sang Garuda Pancasila

Banyakkah dari kita yang faham bahwa simbol negara kita Garuda Pancasila adalah datang dari sang Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang merupakan salah satu spesies elang berukuran sedang endemik di Pulau Jawa. Sehingga secara bercanda sering saya sampaikan kepada banyak teman yang dekat dihati bahwa kalau kita perhatikan –  maafkan saya karena hanya ingin bercanda dan tak ada maksud sara atau melecehkan suku lain ditanah air – bahwa sebenarnya NKRI itu  sudah ‘setengah terkutuk’ selalu orang Jawa yang akan menjadi pemimpin negeri ini. Yaitu Kepala Negara yang sekaligus Kepala Pemerintahan didalam sitem pemerintahan Presidensil cq Presiden Republik Indonesia – adalah wajib dan harus dan ‘wajib dan harus dan wajib dan harus dan wajib dan harus’ Orang Jawa. Kenapa? Yah… karena simbol Jawa ada dalam simbol NKRI. Apakah simbol tersebut adalah seekor burung yang hanya ada sebagai endemik di Pulau Jawa doang-only-thok-sajaaaa…? “Ya, simbol/metaphor Orang Jawa yang di-convey dalam Elang Jawa (Spizaetus bartelsi),” jelasku ringan kepada mereka semua.

Hmmm… disetujui atau tidak, bukankah kita sudah menggunakan simbol in sejak awal kemerdekaan tahun 1945 lalu? Pernahkah kita mengingat bahwa disaat kita sekolah di SD sampai dengan SMA bahwa Garuda Pancasila adalah Spizaetus bartelsi sang Elang Jawa yang hanya hidup/endemik dipulau Jawa semata? Akankah itu berpengaruh kepada anak-anak Indonesia yang non-Jawa dan bukan berasal dari Pulau Jawa? Apakah jargon Bhineka Tunggal Ika yang ada pada pita dikepit dalam cakar kuat kaki sang Elang Jawa menyiratkan bahwa yang non-Jawa ada didalam cengkeraman sang Jawa?

Menurut  pendapat saya pribadi, sejauh yang non-Jawa ada didalam cengkeraman sang Jawa berada dalam jantung-hati Pancasila, sampai sejauh itu akan fine-fine sajaaa… Artinya mau dia sang Jawa ataupun sang non-Jawa, sejauh seluruh sila yang termaktub didalam isi pasal-pasal dalam Pancasila diakomodir dan diimplementasikan akan berjalan dengan halalan thoyiba. Jalankan saja cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang telah dituangkan kedalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Siapapun yang menjadi pemimpin di Indonesia dari tingkat pusat sampai ke segala daerah disegala tingkatan, tinggal melaksanakan seluruh “warisan/amanat” para founding-fathers kita dahulu. Apa itu cita-cita Proklamasi 1945, kenapa sesungguhnya kita harus merdeka dari seluruh penjajahan dibumi Pertiwi, dan lain sebagainya.

Terdapat empat buah  cita-harap yang mendasari kemerdekaan Republik Indonesia yang jika dilaksanakan oleh siapapun yang menjadi pemimpin di Indonesia maka akan dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat dan kejayaan Nusantara, yaitu: (1) melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia; (2) memajukan kesejahteraan umum; (3) mencerdaskan kehidupan bangsa;(4) ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Itulah semangat-spirit-ruh dari para founding-fathers kita dahulu saat mendirikan Republik Indonesia. Ditahun 2009 ini setelah Pilpres dilaksanakan, menjadi pertanyaan besar apakah Pemerintahan Rezim SBY telah dengan jelas menunujukkan keberpihakannya kepada upaya perlindungan segenap bangsa Indonesia serta tumpah darahnya termasuk didalamnya memajukan kesejahteraan umum? Ketika Indonesia dihadapkan dengan persaingan global dengan HDI (Human development Index) sangat rendah, dengan wajib belajar hanya 9 tahun hingga kelas 3 SMP, apa yang dapat diharapkan menjadi competitive advantage anak-bangsa negeri ini didalam keikut sertaan didalam perdaiaman dunia? Tentunya para founding-fathers kita dahulu tidak mencita-citakan anak-bangsanya menjadi generasi ‘koeli’ ditingkat internasioanl yang sepulang dari tempat kerja tinggal membawa cacat badan karena penganiayaan majikan dan anak berambut keriting tak berayah? Para perempuan perkasa yang telah memberikan sumbangsih pendapatan nasional setidaknya sekitar Rp 150 Trilyun,- setiap tahun, tidak harus terpaksa keluar kampung halamannya bila saja negeri ini tetap memberikan fokus bagi dunia pertanian dimana sebagian besar penduduk negeri ini tergantung dari penghasilan usaha tani. Bergeser kelautan? Allah Azza wa Jalla meberikan laut luas bagi kita anak bangsa tanpa harus memeliharanya, semua tinggal tangkap saja asalkan mampu membelaki diri dengan armada dan peralatan tangkap yang terus berinovasi serta mampu menghalau penagkap ikan liar dari negeri tetangga. Leang Jawa dalam Garuda Pancasila menyiratkan Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang jeli setajam mata elang yang mampu fokus dan menukik didalam menangkap seluruh peluang/opportunity demi me-leverage kemakmurannya bukan dengan sekedar bagi-bagi BLT namun rakyat juga yang harus membayar pinjaman dasar dan bebean hutangnya dari Negara donor – The Washington Consencuss: (1) IMF; (2) World Bank; (3) WTO. Sudahkah Presiden SBY pada HUT beliau ke 60 telah mampu menjadi sang Elang Jawa bermata tajam bagi rakyat Indonesianya secara keseluruhan tanpa terkecuali dan meninggalkan kepentingan kepompoknya – baik sisa rezim Orde Baru maupun rezim nowadays binaanya sendiri? Bila memang abik dan benar kenapa tidak untuk me-LANJUTKAN? Bila belum maka tidak ada salahnya kita koreksi bersama-sama bukan? Namun apakah masih sebebas sang burung Elang Jawa yang terbang tinggi diangkasa tanpa harus bersentuhan dengan Pasal 310 dan 311 KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan dan Pencemaran Nama Baik?

 3-menangisi-sang-garuda-marissa-haque-fawzi-2009

2.      Elang Jawa Spizaetus bartelsi

 

Identik dengan lambang negara Republik Indonesia Garuda Pancasila, (MacKinnon, J. 1993) dalam disertasiku Doktorku – Marissa Grace Haque Fawzi dari IPB – mengatakan bahwa burung Garuda/Elang Jawa ini memiliki ciri bertubuh langsing dengan ukuran sedang sampai besar. Panjang tubuh berkisar sekitar 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor). Kepalanya berwarna coklat kemerahan (kadru)  dengan jambul yang tinggi menonjol – terkadang dari samping mirip burung kakak tua hanya lebih ekstrim – dengan 2  sampai 4 helai/lembar bulu sepanjang hingga 12 cm. Memiliki  tengkuk berwarna coklat-kekuningan bahwan terkadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari. Sangat anggun dengan kesan gagah perkasa. Jambul hitam dengan ujung putih, mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawo-matang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Berbulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar. Iris mata kuning atau kecoklatan,  paruh kehitaman, sera (daging di pangkal paruh) kekuningan, kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.[1] Bunyi suara nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara Elang Brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya.[2]

Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat TUNK (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya kini terbatas di beberapa wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar lainnya ditemukan diseparuh belahan selatan Pulau Jawa. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) ini juga menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 m dan kadang-kadang 3.000 m dpl. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) ini menyukai hidup pada wilayah perbukitan yang berlereng.[3] Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidup dan berkembang-biaknya, sehingga tanpa hutan hijau tak ada kehidupan bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya – sustainability-nya.

Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai manusia walau sesungguhnya tidak s jauh dari lokasi aktivitas manusia. Walaupun ditemukan elang yang menggunakan hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas. Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) adalah burung pemangsa, dan mereka berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan. Dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, seperti pelbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong, musang, sampai dengan anak monyet. Masa bertelur tercatat mulai bulan Januari hingga Juni. Sarang berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat di cabang pohon setinggi 20-30 di atas tanah. Telur berjumlah satu butir, yang dierami selama kurang-lebih 47 hari. Pohon sarang merupakan jenis-jenis pohon hutan yang tinggi, seperti rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus dan Quercus), tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), dan ki sireum (Eugenia clavimyrtus). Tidak selalu jauh berada di dalam hutan, ada pula sarang-sarang yang ditemukan hanya sejarak 200 sampai 300 m dari tempat rekreasi masyarakat disekitarnya.

Munkinkah kita memetaforkan bahwa sang burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
adalah elit pimpinan Indonesia  yang ‘memangsa’ apapun sumber hidup dan kehidupan disekitar rentang wilayah hidupnya? Melihat peluang/opportunity dari ketinggian pada posisi elit pemerintahan pusat/daerah lalu menerkam mangsnaya tanpa ampun untuk kemudian disantap bagi kelangsungan hidupnya sendirian?

4-mahfud-dan-sby-marissa-haque

  5-mahfud-dan-sby-dan-ani-sby-marissa-haque

3.      Elang Jawa Satwa yang Dilindungi

Mengambil sumber dari http://id.wikipedia.org/wiki/Elang_Jawa, didapatkan informasi bahwa Elang Jawa adalah Satwa yang Dilindungi serta tempat tinggalnya masuk dalam wilayah konservasi di Indonesia. Ketentuan hukumnya juga sangat jelas, kitapun wajib untuk mempelajarinya sebagai berikut:

a)      Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki;

b)      Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat(2)).

Sebagai hewan yang masuk kedalam ketegori satwa langka yang harus berada didalam area konservasi, Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) adalah methapor/simbol nyata dari kondisi Indonesia hari ini yang telah hampir “memusnahkan” kekayaan intelektualnya sendiri warisan dari para founding fathers Soekarno-Hatta. Bila burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dalam kesehariannya sekarang harus dikonservasi, maka tak beda dengan yang disimbolkannya sebagai Indonesia, harus mulai mengkonservasi nilai-nilai luruh dari makna filosofis Garuda Pancasila yang terasa sudah mulai amat luntur di Indonesia? Namun siapakah dari kita rakyat yang akan memulai pengkonservasiannya bila kita sudah tidak mungkin lagi banyak berharap pada elit pemerintah? Karena power tends to corrupt dan absolute power curropts absolutely! Dibutuhkan segera seorang leader with a strong vision dan a strong leadership as well. Sudahkah Presiden SBY memenuhi criteria tersebut atas nama dan untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali – dilaur sekedar kompak dan berbagi didalam sisa Rezim Orde Baru dan Rezim baru yang dibentuknya?  Bila sudah tentu kita tak harus mempertanyakan keterlibatan aktif Sri Mulyani dan Boediono terkait Korupsi dana talangan Bank Century Rp 7,3 Trilun,- yang diduga terkait dengan kampanye Pilpres kelompoknya tahun 2009 yang lalu bukan? Wallahualam bissawaab…

 7-kpu-2009-sangat-buruk

4.      Elang Jawa pada HUT Presiden SBY

Terus apa hubungannya Elang Jawa tadi dengan HUT Presiden SBY dan kejadian menangisinya? Rasanya akan seperti itu pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh anda semua para pembaca tulisanku ini.

 

Pasangan SBY-Boediono adalah pemenang Pres dan Wapres versi Pipres 2009-2014 yang baru saja kita lewati tanpa gejolak yang terlalu berarti – kecuali dibumbui sedikit dengan aroma bom Mariot dan Ritz sehingga membuat bertambahnya kehadiran marinir Amerika Serikat masuk keperairan NKRI dengan alasan ancaman laten terorisme fundamentalis Islam jaringan Jamaah Islamiah ‘temannya’ Al Qaida. Sebagai umma Islam yang menginternalisasi nasionalisme Indonesia, hari ini – ditambah dengan ambivalensi penegakan hukum konstitusional yang menlokomotifkan politik – membuat gejolak emosi dalam faith dan believe menjadi ‘meledak-meletup.’ Sifat Elang Jawa yang memangsa semuanya dan menangkap mangsa dengan ‘strategi tukik’ sangat tajam dengan ketepatan tinggi hanya dimiliki oleh mereka yang pernah berlajar serta lulus Ilmu Manajemen Strategik. Akan menjadi sempurna bila seorang militer yang memperlajarinya semacam Presiden SBY tatkala mengambil S2 beliau di Webster University, Amerika Serikat jurusan Strategic Management. Karenanya tidaklah mengherankan kalau sekedar membobot BSC (Ballance Scored Card) menjadi a piece of cake bagi beliau. Namun bukan berarti seorang Master yang menguasai BSC akan juga berarti sangat master dalam bidang HRSC (Human Resource Scored Card). Terbukti dengan kasus yang menurut saya sebagai mahasiswi pasca sarjana IPB memalukan bagi seorang Doktor lulusan terbaik dengan IPK 4 bulat jurusan Fakultas Ekonomi Pertanian ketika harus mengeluarkan 2 outputs yang sangat tidak scholarly, yaitu: (1) Kasus Blue Energy; dan (2) Kasus Padi Super Toy. Bilamana Presiden SBY menguasai bidang keilmuan pembobotan SDM (Sumber Daya Manusia) tentu akan lebih senang bergaul dengan LIPI (Lembaga ILmu Pengetahuan Indonesia) dan para Professors dari berbagai respectable universities didalam negeri dibandingkan dengan “sekedar cepat percaya” dengan Bapak Heru Lelono salah seorang penasihat pribadi beliau dari Cekeas Center, Bogor! Sehingga kesalahan yang sangat fundamental seperti itu dapat dihindari. Kedepannya tentulah logo atau simbol dari burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) menginginkan Indonesia mampu tajam melihat peluang serta menjawab tantangan zaman dengan cara bergandengan tangan dengan seluruh institusi riset dan universitas didalam negeri. Bukan sekedar mendengarkan – nyuwun sewu Mas Heru – ‘konsultasi bathiniah’ seorang Heru Lelono (with all of my respects to him).

 4-prof-dr-mahfud-md

5.      Elang Jawa bagi Rakyat Adil-Makmur-Sentosa

Bagian dari satu set tulisan ini kuperntukkan khusus bagi Prof. Dr. Mahfud MD, SH, SU my inspiration dalam bidang Ilmu Hukum Konstitusi pasca kepulangan dari Gedung Mahkamah Konstitusi tanggal 9/9/2009 lalu. Ketika sebuah buku lama bersampul hijau warna PKB berjudul Demokrasi dan Konstitusi – menjelang lusuh – kutemukan lagi diruang TV bawah ditempat diaman aku baisa menemani Ikang Fawzi suamiku menonton TV sambil membaca buku “ekosobkum” membuat mala mini aku terus-menerus melakukan tarikan benang merah atas apa yang ditulis beliau didalam proses pencarian dari kegelisahan hukum yang ditulis beliau untuk thesis S2 dari Fakultas Sosial-Politik UGM dan apa yang beliau katakana langsung tertanggal tanggal 9/9/2009 lalu – demi menjaga stabilitas dan keamanan Indonesia menjelang pelantikan Presiden tanggal 20 Oktober 2009 besok ini! Memang beliau tidak leterlijk mengatakan demikian namun inti yang saya simpulkan adalah seperti itu. Setelah Prof Mahfud menyatakan kalau register PHPU (Perselisihan Hasil Pemilihan Umum) tidak ditutup maka seluruh Indonesia akan kembali berbondong-bondong mendaftarkan sengketanya, jadi diminta agar melanjutkan dengan tuntutan pidana saja terhadap KPU dan yang terkait dengan delik pidana penggelapan hukum, dan lain sebagainya.

Saya memang mencoba tersenyum bijak saat itu saat melihat aura wajah teduh Prof Mahfud yang selama ini saya kagumi buah pikiran kristis didalam buku-buku yang ditulisnya dengan kenyataan yang membuat sadar bahwa begitu kita ‘terjerumus’ kedalam sebuah sistem maka diri kita adalah refleksi atas personifikasi value dari sistem tersebut. Untuk detail dari berbagi cerita/pengalaman perbincangan saat perjumpaan eksklusif tersebut akan saya buat didalam tulisan terpisah agar tidak bias. Hanya inti dari apa yang hendak saya katakana disini adalah bahwa Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang memberikan rakyatnya pada kondisi adil-makmur-sentosa, wa bil khusus adil … ternyata dibelahan manapun di Indonesia dalam konteks hari ini adalah “UTOPIA” (angan-angan) belaka!

 8-mk-marissa-haque2

6.      Elang Jawa dalam Pribadi Bangsaku

 

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) adalah: (1) burung pemangsa, yang bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan; (2) dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, seperti pelbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong, musang, sampai dengan anak monyet; (3) yang masa bertelur tercatat mulai bulan Januari hingga Juni; (4) yang memiliki sarang berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat di cabang pohon setinggi 20-30 meter di atas tanah; (5) yang sarangnya berada pada jenis-jenis pohon hutan yang tinggi seperti rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus dan Quercus), tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), dan ki sireum (Eugenia clavimyrtus). Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) ini juga merupakah burung yang solitude, penyendiri yang lebih sering sendiri ditengah keramaian.

Terkesima saya begitu mengingat logo Partai Demokrat dengan Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang melekat pada simbolnya. Elang yang penyendiri, yang jeli, yang sigap, yang cermat yang sangat Strategic Thinking karena dapat melihat dengan jernih dari ketinggian diatas sana. Pertama logo Demokrat yang Berketuhanan dengan logo segitiga menuju ‘Tauhid’ diujung atasnya, kemudian ada warna bendera merah-putih didalamnya menunujukkan kenasionalis-religiusannya. Wahai… siapakah sang pencipta simbol yang baru kusadari belakangan akan makna terdalamnya? Two thumbs-up untuk dirinya! Namun begitu dilekatkan sang Elang Jawa bersamanya, maka kedua ujung alis mataku tiba-tiba mendadak langsung menjadi satu ditengah dahi. Seketika kusadari “karakter sigap” dari sang Elang yang sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah: (1) berbagai jenis reptil; (2) burung-burung sejenis walik, punai: (3) dan bahkan ayam kampung; (4) mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong; (5) musang; (6) sampai dengan anak monyet. Menyiratkan methapore dari filosofi Presiden SBY seperti tertulis didalam bukunya yang ditulis oleh Dr. Dinno Pati Djalal berjudul Harus Bisa.” Bukankah kemudian kita sadari bahwa semangat ‘harus bisa’ berarti sama halnya dengan menghalalkan segala cara demi untuk mencapai tujuan? Bukankah didalam menghalalkan segala cara apapun halangan dan rintangan akan dengan sigap ‘dimakan’ atau dilibas?

Seharusnya bila memang sang Elang Jawa itu menjadi simbol negara yang kita anggap mewakili karakter bangsa Indonesia, maka sebagai bangsa yang ‘merdeka dan berdaulat’ seharusnya kitapun dengan kejelian serta kesigapan tinggi akan mampu tampil seperti bangsa Yahudi yang memiliki kemakmuran yang tak tertandingi diseluruh dunia hari ini. Karenanya keberadaan sebagai simbol negara, masihkah sang Elang Jawa identik melekat dalam ‘Pribadi Bangsaku’? Bukankah kita semua sedang selalu kalah dan disantap oleh kelompok ‘predator’ lain yang lebih kuat layaknya seperti dalam mata rantai makanan dalam Ilmu Biologi?

Sesuatu menyatap siapa dalam konteks bagaimana dan tujuan apa?

Ataukah memang sang burung Elang Jawa memang hanya akan menjadi simbol karakter golongan tertentu dari suku bangsa Jawa tertentu untuk hari ini dan kedepannya? Apakah itu takdir kita sebagai bangsa dari Negara Kesatuan yang Bhineka dan Tungal Ika?


[1] Panduan lapangan pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University 

  Press. Hal 104

[2] Sozer, R., V. Nijman dan I. Setiawan. 1999. Panduan identifikasi Elang Jawa Spizaetus bartelsi.

  Bogor: Biodiversity Conservation Project (LIPI-JICA-PKA). Hal 48

[3] Balen, S. van, V. Nijman and R. Sozer. 1999. Distribution and Conservation of Javan Hawk-eagle

  Spizaetus bartelsi. Jakarta: Bird Conservation International 9. Hal 333-349

kpu-kriminal-adalah-alat-presiden-sby-curang-dalam-pilpres-20091

Ini bulan suci Ramadhan, rasanya… insya Allah… setiap kejadian memiliki pertanda bagi kita semua kalau saja kita mau berpikir dan menggunakan akal sehat! Didalam QS. al-Mai’dah (5) : 49 disebutkan:

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia adalah orang-orang yang fasik.

Sangat JELAS lagi NYATA apa yang diajarkan Al Quranul Karim kepada kita semua ummat dimuka bumi ini.

2-the-writing-of-marissa-haque-fawzi

Memang benar dikatakan oleh para ahli klimatologi, argonomi, geologi, hidrologi, bahwa Bumi akan selalu berubah. Bahwa seretan pulau Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT dan lainnya adalah merupakan jalur gunung berapi (circum pasific). Namun didalam berputarnya bumi mengikuti the nature of law yang merupakan God’s law dari arah kanan menuju kiri berlawanan dengan jarum jam baik makrokosmos maupun mikrokosmos. Maka dampak dari dinamika alam tersebut mengakibatkan seluruh isi dan permukaan bumi berjalan – bahkan gunung-gunungpun ikut berjalan. Dikatakan juga bahwa sebagai akibat tumbukan lempeng dasar samudra Australia dan lempeng benua Euro-asia – plate tektonik – beberapa puluh juta tahun yang lalu deretan pulau tersebut pernah menjadi dasar samudra. Sehingga sangatlah mungkin pula kelak, sekian puluh juta tahun lagi deretan pulau dimuka bumi yang kita huni ini akan kembali menjadi dasar samudra. Demikianlah proses geologi – sunnatullah! Proses seperti ini akan berlangsung terus-menerus berkelanjutan.

Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan ummatnya agar mawas diri. Gempa yang semakin sering frekuensinya sangat mungkin pertanda/petunjuk awal bagi akan berakhirnya zaman bagi bumi dan penghuninya –  the end of the world/kiamat.

3-air-mengalir-dari-atas-menuju-bawah-sunatullah-marissa-haque-fawziGempa skala 7,3 skala Richter adalah gempa bumi tektonik diakibatkan oleh akumulasi pergeseran lempeng lapisan bumi selama bertahun-tahun. Menumpuknya energi akibat tumbukan antarlempeng inilah yang pada saatnya akan lepas dan menimbulkan goncangan. Meskipun pusatnya jauh berkilometer di kedalaman bumi namun getarannya berdampak besar di permukaan. Sejak bumi terbentuk dan berputar pada sumbunya, lempengan juga terus bergerak walau kita di permukaan tidak merasakannya. Tak terhitung gempa besar-kecil yang telah terjadi sejak dulu. Sehingga memang tak perduli siapa yang menjadi Presiden Indonesia, mau itu Pak SBY atau lainnya gempa pasti akan terus berkelanjutan. Namuuun… jika kita akui bahwa hari akhir itu pasti dating, dan nyata bagi kita semua, apakah kita akan membiarkan diri kita, keluarga, orang yang dekat dihati menjadi korban masuk NERAKA JAHANNAM? Padahal kita mampu untuk mencegahnya.

4-logo-ipb-merah-for-marissa-haqueBahwa dibulan suci Ramadhan ini gempa justru terjadi disaat KPU baru akan memulai penentuan Keputusan Putaran 3 Legislatif/DPR RI dengan MENYINGKIRKAN isi KEPUTUSAN MK (Mahkamah Konstitusi) yang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Mahfud MD, SH, SU, adalah sebuah kejahatan luar biasa atas nama HAM (Hak Azazi Manusia) dan Konstitusi berencana. Dibidani langsung oleh Ketua KPU Prof. Dr. Hafiz Anshari Guru Besar Agama Islam diasisteni oleh Putu Artha, Andi Nurpati, dan Endang Lestari serta dibidani oleh SIGIT – orang ini adalah Ketua Bidang Hukum di KPU yang diduga adalah kunci korupsi seharha Rp 1 Milyar perkepala dikali 115 Caleg – menambah murka alam semesta sebagai akumulasi doa ratusan caleg terdzolimi!

Kita memiliki Kepala Negara yang sekaligus Kepala Pemerintahan cq Presiden Republik Indonesia yang memiliki HAK DISKRESIONER untuk menegur PARA PENYELNGGARA NEGARA dalam kontek Pemilu cq adalah KPU! Hanya Presiden SBY yang dapat menunda musibah lebih besar lagi karena akumulasi dari ratusan bahkan mungkin ribuan kejahatan konstitusi yang terbiarkan karena ketidak tahuan rakyat kemana akan mencari saluran berdemokrasinya. Untung saya tidak terlalu percaya dengan demokrasi sehingga lebih mudah bagiku untuk dapat ‘menunjuk’ hidung entitas yang seharusnya wajib bertanggung jawab.

Wallahi saya khawatir parlemen jalanan sedang membentuk diri secara alamiah seiring berjalannya kejahatan parlemen dan para stakeholders-nya. Bila people power benar-benar akan terjadi sebentar lagi, dan Presiden SBY bolak-balik beretorika tentang teroris Islam agar mendapatkan bala-bantuan lebih dari Amerika yang ‘diduga’ bukan untuk kemashlahatan ummat – namun untuk ‘mempertahankan dirinya’ sendiri semata  – maka sama artinya Presiden SBY menjerumuskan rakyatnya kepada perang saudara didalam negeri yang berkelanjutan.

5-climate-system-marissa-haque-fawzi-of-ipb-bogorSaran saya sebagai rakyat biasa… bereskan segera Pak Presiden yang saya cintai… kalau perlu dengan dampak jera sekaligus! Semisal giring ke 7 (komisioner) KPU ke PENJARA! Jangan mentang-mentang mereka pro kepada Bapak dan disebagian besar dispute/sengketa Pilpres kemarin Pak Presiden sebagai incumbent diuntungkan, menjadi tidak adil, berat sebelah! Bukankah Pak Presiden SBY telah melakukan KEDZOLIMAN BERKELANJUTAN bagi mereka yang memiliki hak konstitusional? Tidakkah Pak Presiden SBY takut pada adzab perih dari Allah Azza wa Jalla yang mungkin besok pagi mendatangi Bapak sekeluarga? Inna lillahi wa inna ilahi rojiuuun…

windowslivewriterdokterjugapahlawan_part1-a23cbendera3Sumber: Laporan wartawan KOMPAS.com

Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com- Bukan hendak syuting, pasangan artis Ikang Fawzi dan Marissa Haque yang sebelumnya juga menjadi calon anggota legislatif mengajukan komplain atas penetapan calon anggota legislatif ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Senin (25/5).
Beserta caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) Dedy Djamaludin Malik, Ikang dan Marissa menduga adanya kecurangan dalam proses penetapan caleg terpilih pada tahap ketiga pembagian kursi di daerah pemilihan Jawa Barat.

“Caleg PPP Nu’man Abdul Hakim harusnya suaranya hangus. Dedi Djamaludin Malik harusnya mendapat kursi karena memperoleh suara tertinggi di tahap ketiga,” tutur Marissa seusai menemui komisioner KPU Andi Nurpati.

Baik Ikang maupun Marissa menduga ada permainan yang dilakukan antara saksi parpol dan KPU dalam penetapan caleg terpilih. Menurut Marissa, sebenarnya di tahap ketiga penghitungan kursi di tingkat provinsi, PAN memiliki sisa suara tertinggi dan memenuhi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). “Tapi hak PAN sebagai partai dengan sisa suara tertinggi yang lebih punya hak, dikebiri oleh PPP,” ujar Marissa yang juga berasal dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Kami tidak menang juga tidak mengapa. Tapi lebih kepada rasa keadilan yang terusik. Ini telanjang, siapapun bisa menghitungnya,” tambah Marissa.

kpu-kriminal-adalah-alat-presiden-sby-curang-dalam-pilpres-2009

Ikang dan Marissa pun curiga terhadap permainan oknum partai untuk melakukan negosiasi di luar partai. Menurut Ikang yang menjadi caleg Partai Amanat Nasional (PAN) di dapil Banten I, dalam penghitungan tahap ketiga, sisa kursi hanya terdapat di dapilnya. Dapil Banten II dan III sudah terisi semua.

“Otomatis saya yang masuk (di penghitungan tahap ketiga) dengan total suara 30.000-an. Sisa kursi kan di dapil 1. Tapi saya dengar oknum-oknum partai (PAN) ngotot diserahkan kepada Ketua DPW setempat,” tutur Ikang.

Ketika Ikang dan Marissa ditanyakan respon masing-masing partai mereka, keduanya sama-sama mengatakan proses penetapan tidak transparan. Apalagi dengan kondisi internal partai yang sedang terbelah menjelang Pilpres.

di-kpu_jakarta-ikang_fawzi_pan_deddy_djamaluddin_malik_pan_marissa_haque_ppp_di_kpu_jakartaMarissa bahkan mengatakan telah menghubungi Ketua Umum PPP Suryadharma Ali. “Dia (SDA) malah bilang, ‘Dilawan aja Fernita. Kalau dibilang begitu, berarti itu keputusan Fernita, bukan keputusan partai,” tutur Marissa dengan gusar. Fernita adalah saksi PPP dalam rekapitulasi suara dan kursi.

Menurut Marissa, respon KPU juga tak memuaskan. KPU menyerahkan perdebatan kepada saksi parpol yang bersangkutan.

Selanjutnya, Marissa berencana melaporkan Fernita, saksi PPP dalam rekapitulasi suara dan kursi bersama KPU, ke Polda Metro Jaya atas dugaan penyelundupan hukum atas kecurangan penetapan caleg terpilih.

putu-artha-dan-hafiz-anshari-para-maling-kpu-buldog-kecurangan-presiden-sby-dalam-pilpres-2009th_ketuakpu2009kriminalgruppresidensby

Older Posts »

Categories